Perjalanan
Hidup Delisa
Judul Film :
Hafalan Shalat Delisa
Jenis Film : Drama
Produser : Chand Parwez Servia
Produksi : PT.
Kharisma Starvision Plus
Sutradara : Sonny Gaokasak
Hafalan
Shalat Delisa adalah sebuah karya film yang diproduksi oleh PT. Kharisma Starvision Plus. Film ini disadur
dari judul novel yang sama dengan filmnya yang dikarang oleh Tere Liye.
Novel ini
berkisahkan Delisa, 6 tahun, tinggal bersama ibunya yang ia panggil Ummi serta
ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra
(12 tahun). Ayah mereka Abi Usman bekerja di kapal tanker dan pulang setiap
tiga bulan sekali. Delisa berusaha keras menghafal bacaan shalat, bukan hanya
untuk ujian hafalan, tapi juga karena iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi.
Pagi 26
Desember 2004 Delisa sedang di muka kelas untuk ujian hafalan shalat. Ummi
menunggu di luar kelas. Tiba di penghujung kalimat hafalan shalatnya, tsunami datang.
Ujung air menghantam tembok sekolah. Ibu guru Nur berteriak panik. Tubuh Delisa
terpelanting. Enam hari kemudian, Prajurit Smith dari Amerika Serikat menemukan
Delisa tersangkut semak belukar berbunga putih empat kilometer dari sekolahnya.
Dengan seluruh tubuh penuh luka, kaki koyak bernanah, kelaparan, kepanasan,
kedinginan, Delisa tidak sadarkan diri. Segera ia diterbangkan dengan
helikopter menuju Kapal Induk John F Kennedy.
Ia tak tahu
bahwa umminya hilang entah kemana. Kedua kakak kembarnya ditemukan mati
berpelukan. Kakak tertuanya dikubur tiga hari setelah bencana. Rumahnya rata
dengan tanah. Lapangan bola tempat ia biasa bermain rata. Sekolahnya hanya
tinggal pondasi tiang bendera. Ayahnya masih nan jauh di tengah lautan Kanada.
Ia benar-benar sendirian. Dan yang lebih mengerikan lagi, ia tak tahu bahwa
ketika sadar ia benar-benar lupa bacaan shalatnya.
Novel ini banyak mengandung nilai- nilai positif
terutama bagi semua golongan bagi anak-anak, muda dan tua. Sebab, di dalam film
ini mengajarkan bagaimana kita sebagai remaja harus bangkit dari keterpurukan
sebuah realita hidup yang didalamnya mengajarkan kita untuk selalu tersenyum
dalam menghadapi masalah dan jangan berputus asa . Akan tetapi, Novel ini juga
memiliki kekurangan sebab tidak ada bahasa daerah Aceh yang dipakai serta penggambaran
film ini tidak menggambarkan suasana didaerah Aceh sesungguhnya.
Bagaimanapun keadaanya, Film ini layak dilihat oleh
semua kalangan,karena film ini mengandung nilai-nilai positif dan nasihat-nasihat
yang berguna berkaitan tentang ajaran agama pada khususnya serta sikap optimis
dan pantang menyerah pada umumnya.












