Senin, 15 Oktober 2012

Resensi Film Hafalan Shalat Delisa


 Perjalanan Hidup Delisa

Judul   Film     : Hafalan Shalat Delisa
Jenis Film        : Drama
Produser          : Chand Parwez Servia
Produksi          : PT.  Kharisma Starvision Plus
Sutradara         : Sonny Gaokasak

Hafalan Shalat Delisa adalah sebuah karya film yang diproduksi oleh  PT. Kharisma Starvision Plus. Film ini disadur dari judul novel yang sama dengan filmnya yang dikarang oleh Tere Liye.
Novel ini berkisahkan Delisa, 6 tahun, tinggal bersama ibunya yang ia panggil Ummi serta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka Abi Usman bekerja di kapal tanker dan pulang setiap tiga bulan sekali. Delisa berusaha keras menghafal bacaan shalat, bukan hanya untuk ujian hafalan, tapi juga karena iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi.
Pagi 26 Desember 2004 Delisa sedang di muka kelas untuk ujian hafalan shalat. Ummi menunggu di luar kelas. Tiba di penghujung kalimat hafalan shalatnya, tsunami datang. Ujung air menghantam tembok sekolah. Ibu guru Nur berteriak panik. Tubuh Delisa terpelanting. Enam hari kemudian, Prajurit Smith dari Amerika Serikat menemukan Delisa tersangkut semak belukar berbunga putih empat kilometer dari sekolahnya. Dengan seluruh tubuh penuh luka, kaki koyak bernanah, kelaparan, kepanasan, kedinginan, Delisa tidak sadarkan diri. Segera ia diterbangkan dengan helikopter menuju Kapal Induk John F Kennedy.

Ia tak tahu bahwa umminya hilang entah kemana. Kedua kakak kembarnya ditemukan mati berpelukan. Kakak tertuanya dikubur tiga hari setelah bencana. Rumahnya rata dengan tanah. Lapangan bola tempat ia biasa bermain rata. Sekolahnya hanya tinggal pondasi tiang bendera. Ayahnya masih nan jauh di tengah lautan Kanada. Ia benar-benar sendirian. Dan yang lebih mengerikan lagi, ia tak tahu bahwa ketika sadar ia benar-benar lupa bacaan shalatnya.
Novel ini banyak mengandung nilai- nilai positif terutama bagi semua golongan bagi anak-anak, muda dan tua. Sebab, di dalam film ini mengajarkan bagaimana kita sebagai remaja harus bangkit dari keterpurukan sebuah realita hidup yang didalamnya mengajarkan kita untuk selalu tersenyum dalam menghadapi masalah dan jangan berputus asa . Akan tetapi, Novel ini juga memiliki kekurangan sebab tidak ada bahasa daerah Aceh yang dipakai serta penggambaran film ini tidak menggambarkan suasana didaerah Aceh sesungguhnya.
Bagaimanapun keadaanya, Film ini layak dilihat oleh semua kalangan,karena film ini mengandung nilai-nilai positif dan nasihat-nasihat yang berguna berkaitan tentang ajaran agama pada khususnya serta sikap optimis dan pantang menyerah pada umumnya.